Breaking News

Ini Proyek Yaman Ala Dubai dan Kuwait


Proyek Khor Al-Mukalla Baru, yang oleh warga kerap disebut Al Khor, kini menempati posisi penting dalam wacana pembangunan pesisir Yaman. Di tengah situasi ekonomi dan politik yang kompleks, proyek ini kerap dibandingkan dengan megaproyek kawasan Teluk seperti pengembangan pesisir Dubai dan Sabah Al Ahmad Sea City di Kuwait.

Dubai selama dua dekade terakhir dikenal sebagai ikon pembangunan pesisir modern. Kawasan seperti Dubai Marina dan Palm Jumeirah dirancang bukan hanya untuk fungsi utilitas, tetapi sebagai pusat gaya hidup, pariwisata, dan investasi global yang terintegrasi dengan sektor properti dan jasa keuangan.

Sementara itu, Sabah Al Ahmad Sea City di Kuwait dibangun dengan pendekatan perencanaan jangka panjang yang menitikberatkan pada kota kanal. Proyek tersebut menggabungkan hunian, fasilitas maritim, dan sistem air buatan yang dirancang untuk keberlanjutan serta kenyamanan hidup kelas menengah atas.

Di Mukalla, Khor Al-Mukalla Baru memiliki karakter yang berbeda. Proyek ini lahir dari kebutuhan dasar kota untuk menata muara air, mengendalikan aliran banjir, serta memperbaiki wajah pesisir yang selama bertahun-tahun terabaikan akibat konflik dan keterbatasan anggaran.

Secara tujuan, Al Khoe lebih mendekati proyek fungsional perkotaan dibanding megaproyek komersial. Pembangunan ini ditujukan untuk meningkatkan infrastruktur pesisir dan ruang rekreasi, sekaligus memperkuat identitas Mukalla sebagai ibu kota Hadramaut yang modern.

Jika Dubai menjadikan pesisir sebagai mesin ekonomi global, Mukalla menjadikannya sebagai alat pemulihan kota. Penataan khor atau muara air diharapkan mampu mengurangi dampak banjir bandang yang kerap melanda kawasan tersebut saat musim hujan ekstrem.

Dalam konteks pariwisata, ketiga proyek sama-sama menempatkan air sebagai daya tarik utama. Dubai mengemasnya dalam bentuk marina mewah, Kuwait menawarkan kota kanal yang tertata rapi, sedangkan Mukalla menghadirkan lanskap perkotaan baru yang lebih terbuka dan ramah masyarakat lokal.

Khor Al-Mukalla Baru diharapkan memberi pemandangan kota yang lebih modern. Kehadiran jalur pedestrian, ruang terbuka, dan kawasan rekreasi air diyakini dapat menarik pengunjung domestik maupun diaspora Hadramaut yang kembali berkunjung.

Namun, skala investasi menjadi pembeda paling nyata. Proyek pesisir Dubai dan Sabah Al Ahmad Sea City didukung modal negara dan swasta bernilai miliaran dolar. Sebaliknya, Al Khoe dibangun dengan sumber daya terbatas dan bertahap, menyesuaikan kondisi fiskal Yaman.

Tantangan alam juga memberi warna berbeda. Dubai dan Kuwait relatif minim ancaman banjir ekstrem, sedangkan Mukalla harus berhadapan langsung dengan banjir bandang dan cuaca buruk yang berulang kali menghambat progres pembangunan.

Meski demikian, upaya teknis terus dilakukan. Rekayasa aliran air dan penguatan struktur pesisir menjadi fokus utama agar khor dapat berfungsi ganda sebagai pengendali air dan ruang publik yang aman.

Dalam aspek simbolik, Al Khoe memiliki makna yang lebih kuat secara sosial. Pembangunan yang terus berjalan di tengah krisis menjadikannya lambang ketahanan dan harapan warga Mukalla akan masa depan yang lebih baik.

Dubai sering dipandang sebagai simbol kemewahan dan ambisi tanpa batas. Kuwait melalui Sabah Al Ahmad Sea City merepresentasikan stabilitas dan perencanaan jangka panjang. Mukalla, melalui Al Khor Baru, menampilkan narasi kebangkitan dari keterbatasan.

Dari sisi perencanaan kota, Al Khoe memang belum sekompleks kota kanal Kuwait atau kawasan marina Dubai. Namun proyek ini membuka peluang integrasi kawasan pesisir dengan pusat kota Mukalla secara lebih rapi dan manusiawi.

Keberadaan proyek ini juga dinilai strategis untuk menghidupkan ekonomi lokal. Aktivitas perdagangan kecil, jasa, dan pariwisata di sekitar kawasan khor diproyeksikan tumbuh seiring meningkatnya kunjungan warga.

Para pengamat melihat Khor Al-Mukalla Baru sebagai fondasi awal. Jika situasi keamanan dan ekonomi membaik, kawasan ini berpotensi dikembangkan lebih lanjut dengan konsep yang lebih komersial dan berkelanjutan.

Perbandingan dengan Dubai dan Kuwait kerap dianggap tidak seimbang. Namun bagi Mukalla, keberanian memulai proyek pesisir di tengah krisis justru menjadi nilai tersendiri.

Khor Al-Mukalla Baru tidak bertujuan menyaingi kemewahan Teluk. Proyek ini hadir untuk menjawab kebutuhan kota, memperindah wajah pesisir, dan mengembalikan hubungan warga dengan laut.

Dalam jangka panjang, Al Khoe dipandang sebagai investasi sosial. Ia bukan hanya proyek infrastruktur, tetapi juga sarana membangun kepercayaan diri kota yang lama terpinggirkan.

Dengan demikian, Khor Al-Mukalla Baru berdiri di jalurnya sendiri. Di antara bayang-bayang raksasa pesisir Dubai dan Kuwait, Mukalla menorehkan kisah pembangunan yang sederhana, tangguh, dan sarat makna bagi masa depan Hadramaut.

Tidak ada komentar