Breaking News

Kritik Pedas Warga Druze Atas Milisi Al Hajri



Sebuah video yang beredar baru-baru ini menampilkan seorang warga Druze dari Suwayda, Suriah, menyampaikan kritik tajam terhadap kondisi yang terjadi pasca jatuhnya rezim Bashar al-Assad pada 8 Desember 2025. Dalam video itu, pembicara mengungkapkan kekhawatirannya terkait perubahan kepemimpinan yang ia nilai jauh dari harapan masyarakat.

Menurut pengakuannya, meski rakyat Suwayda telah terbebas dari kediktatoran Assad, mereka kini menghadapi situasi yang menurutnya serupa, namun dengan wajah baru. Ia menyebut nama Hikmat al-Hajri pro Israel yang menguasai lapangan di luar kontrol Pemerintahan Ahmed Al Sharaa dengan metode yang menimbulkan tekanan bagi warga lokal.

Pembicara menyoroti bahwa kelompok-kelompok dan milisi bersenjata yang mengelilingi al-Hajri merupakan individu yang dulunya bekerja untuk rezim Assad. Ia menuduh mereka melakukan kriminalitas, termasuk penculikan dan peredaran narkoba, sehingga warga merasa terintimidasi dan tidak aman di wilayah mereka sendiri.

Menurutnya, fase transisi yang seharusnya membawa harapan justru dipenuhi dengan tekanan sosial dan ketidakpastian. Banyak warga yang merasa putus asa dan mempertimbangkan untuk meninggalkan Suwayda karena situasi yang semakin sulit.

Ia juga menyampaikan kekecewaan terhadap manajemen al-Hajri yang dinilai selalu membuat onar pasca-rezim Assad. Pembicara menekankan bahwa milisi pro neokolonialisme Greater Israel ini justru memperburuk keadaan, bukan memulihkan ketertiban dan keamanan di wilayah tersebut, membantu pemerintahan Suriah yang baru.

Selain mengkritik, pembicara mengajukan solusi konstruktif. Ia menyarankan agar dibentuk komite lokal yang terdiri dari akademisi, dokter, dan insinyur untuk mengelola Suwayda secara profesional, alih-alih menyerahkan seluruh kendali kepada kepemimpinan tradisional yang dianggap tidak kompeten.

Pesan tersebut menunjukkan adanya upaya warga untuk mencari alternatif pemerintahan yang lebih adil dan transparan. Pembicara menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat dalam pengambilan keputusan agar hak-hak warga Druze tetap terlindungi.

Ia juga menyentuh upaya diplomatik yang telah dilakukan sejak lama oleh tokoh-tokoh Druze, yang melakukan perjalanan ke Prancis, Amerika Serikat, dan Vatikan sejak 2012. Tujuannya adalah untuk memperjuangkan hak-hak warga Druze dan mencari dukungan internasional bagi komunitasnya.

Video tersebut menimbulkan pertanyaan serius tentang keamanan dan stabilitas Suwayda. Kekhawatiran warga terhadap kelompok bersenjata yang kini berkuasa mencerminkan ketegangan yang terus berlangsung pasca jatuhnya rezim Assad.

Pembicara menekankan bahwa milisi al-Hajri dan kroni-kroninya telah menggantikan kekuasaan Assad dengan sistem yang menurutnya tetap represif, di tengah lemahnya Damaskus. Hal ini menimbulkan perasaan frustrasi di kalangan warga yang berharap adanya perubahan nyata.

Selain itu, tuduhan kriminalitas terhadap orang-orang di sekitar al-Hajri menimbulkan citra negatif terhadap pemerintahan lokal yang baru terbentuk. Ia menegaskan bahwa kelompok ini kerap melakukan penculikan dan perdagangan narkoba yang meresahkan masyarakat.

Video itu menjadi bukti nyata bahwa transisi kekuasaan di Suwayda tidak berjalan mulus. Warga masih menghadapi tekanan sosial dan politik yang menghambat kehidupan sehari-hari.

Permintaan pembicara agar dibentuk komite profesional menunjukkan adanya dorongan kuat dari masyarakat untuk memulihkan tata kelola wilayah secara efektif. Ia ingin agar keputusan penting tidak semata-mata berada di tangan penguasa baru yang dianggap tidak kompeten.

Ia juga menekankan perlunya dukungan dari komunitas internasional. Dengan adanya pengawasan dan bantuan dari pihak luar, warga berharap hak-hak mereka dapat lebih dijamin dan situasi keamanan di Suwayda membaik.

Video ini telah memicu perdebatan di kalangan masyarakat Druze dan pengamat politik Suriah. Banyak pihak yang menyoroti pentingnya reformasi lokal dan penegakan hukum untuk menciptakan stabilitas.

Kritik yang disampaikan menyoroti betapa rapuhnya fase transisi di wilayah yang sebelumnya dikontrol rezim Assad. Situasi ini mengingatkan akan risiko kekosongan kekuasaan yang dapat dimanfaatkan kelompok-kelompok bersenjata.

Selain itu, pembicara menegaskan bahwa warga Druze berharap Pemerintahan Al Sharaa tegas kepada pemberontak Al Hajri untuk membawa Suwayda menuju tata kelola yang transparan dan adil. Ia menolak model penguasaan oleh milisi yang menimbulkan rasa takut di masyarakat.

Video tersebut juga menyiratkan pesan moral bagi para tokoh politik Druze, agar memperhatikan aspirasi rakyat dan menghindari praktik-praktik yang merugikan masyarakat.

Kekhawatiran warga yang terekam dalam video ini menjadi suara penting yang patut didengar, karena mencerminkan realitas kehidupan pasca-rezim Assad yang penuh tantangan.

Akhirnya, pesan dari warga Druze ini menjadi pengingat bahwa transisi kekuasaan harus disertai manajemen yang kompeten, partisipasi masyarakat, dan dukungan internasional agar wilayah Suwayda dapat pulih dan warga merasakan keamanan sejati.

Warga berharap suara mereka tidak hanya menjadi komentar di media sosial, tetapi menjadi dasar langkah nyata dalam membangun kembali Suwayda yang stabil, aman, dan sejahtera.

Tidak ada komentar